Development of Accounting and Budget System of General Services Board in Universitas Brawijaya: Study of Interpretive

Mirna Amirya, Ali Djamhuri, and Unti Ludigdo

This research attempts to understand the development of accounting and budget system of general service board Universitas Brawijaya using the perspective of institutional theory. Accounting and budget system under study include the change from traditional budgeting to performance-based budgeting and the cash basis (modified accrual basis) to accrual basis. The purpose of this study were to finding the meaning on the development of accounting and budget system of general service board Universitas Brawijaya done today. This research was conducted within the framework of interpretative research paradigm. Analysis and interpretation development of accounting and budget system is done through the New Institutionalism Theory. The results of this study indicate that the actors interpret the application of accounting and budget system of general service board Universitas Brawijaya is to meet the demands of legitimacy because of the insistence of PP No. 23/2005, PMK No. 76/PMK.05/2008, and PMK No. 44/PMK.05/2009. Continue reading Development of Accounting and Budget System of General Services Board in Universitas Brawijaya: Study of Interpretive →

Gender Diversity in the Boardroom and Firm Performance : Evidence from Indonesian Publicly-Listed Financial Firms

Yeney Widya Prihatiningtias
Dissertation

The study has two objectives: first, to examine the impact of the presence of women in the boardroom on firm financial, social and environmental performance; second, to explore the perceptions of women in the boardroom regarding the roles they play in enhancing firm financial, social and environmental performance. Both quantitative and qualitative approaches were utilized. The sample was the Indonesian financial firms publicly-listed in the Indonesian Stock Exchange in 2005-2008. The quantitative data was taken from annual reports of the sample firms and it was analysed using STATA 11. Several women board members were also interviewed to gain further insights and thematic analysis was utilized to analyse this qualitative data. Agency theory, stewardship theory, stakeholder theory, and legitimacy theory were used to explain the link between gender diversity in the boardroom and firm performance. Surprisingly, the result of the quantitative analysis shows that gender diversity has both positive and negative influence on firm financial performance, which was measured by using ROA and Tobin’s Q respectively. There is no link found between gender diversity in the boardroom and firm social and environmental performance. Moreover, the results from the qualitative approach demonstrate that the women board members, especially women directors, believe that they may bring positive effect in organizational improvement, which may then enhance firm performance as a whole. It is found further that women board members in the Indonesian context seem to be the steward of the firms. This means that, gender diversity in this context may not by itself achieve much for firm value although women board members may enhance the profitability of firms as a result of their collaborative work with management. Consequently, firms may need to carefully consider what ‘added value’ is likely to result from the inclusion of women in the boardroom. Continue reading Gender Diversity in the Boardroom and Firm Performance : Evidence from Indonesian Publicly-Listed Financial Firms →

A Power and Knowledge Analysis of Indonesian Accounting History: Social, Political and Economic Forces Shaping the Emergence and Development of Accounting

Eko Ganis Sukoharsono
Dissertation

Central to this study is the belief that it is important to understand the development of accounting in its social context. Accounting is regarded not as a purely technical apparatus outside the realm of the social, but its knowledge and discipline have attached to a variety of contingent forms within society in the range of rationales and socio-political contexts. Through this understanding, the study seeks to explore the genealogy of accounting history in Indonesia. The aspect of accounting knowledge and discipline focused upon is its emergence and development, in the context of a ‘coming into the light’ of accounting in the form of a calculus discipline and socio-political knowledge during the Dutch colonisation of Indonesia. This involved a genealogical analysis of accounting in connection with the development of a new knowledge of writing and numerical notation (the Hindu-Arabic numerals) in Indonesia. The development of accounting in Indonesia is understood not as a ‘sudden’ process, but rather, genealogically, emerged through a long and complex process of history. Long before the arrival of the Dutch in Indonesia, accounting in the form of calculative practices had emerged having definite objects and objectives of calculations. The kingdom periods and the transformation of religious influences from Buddhism and Hinduism to Islam contributed to the development of accounting in Indonesia. During the early seventeenth century, Indonesia changed from a ruralindependent to a colonial society. This was due to the arrival of the Dutch in the Indonesian archipelago. ‘Colonialism’ determined Dutch policies in the archipelago. It is argued that the development of ‘advanced’ accounting as a complex form ofinformation-production, information-retrieval and systematic double-entry bookkeeping belongs to the period of Dutch colonialism in Indonesia. The Dutch used accounting as an institution and technique to discipline those w h o were subject to their influence. Accounting had an important role as a means of supporting the development of a colonial system in Indonesia. This study concludes that accounting during the period of Dutch colonisation played an important part by not only providing technical calculations (for example, assessing prices, cost and profit), but also diverse roles in social, economic and political life. Continue reading A Power and Knowledge Analysis of Indonesian Accounting History: Social, Political and Economic Forces Shaping the Emergence and Development of Accounting →

Menggeser Paradigma Stock Concept Menuju Flow Concept: Kritik atas Netrevenue Sharing pada Akuntansi Mudharabah

Virginia Nur Rahmanti, Aji Dedi Mulawarman dan Ari Kamayanti

….Dari analisis kedua sistem bagi hasil di atas, sesungguhnya permasalahan yang muncul terletak pada sistem bagi hasil NRS. NRS memiliki tiga kesalahan ketidakadilan fundamental. Pertama, dengan basis NRS entah bisnis yang dikelola mudharib mengalami keuntungan atau kerugian, shohibul maal tidak menanggung beban operasional sedikitpun karena nisbah yang digunakan berdasarkan pada laba kotor, yaitu selisih antara revenue dengan harga pokok penjualan (HPP). Lebih serakah lagi, menelaah dari hasil wawancara dengan customer service salah satu bank syariah, Ibu Mita, mengungkapkan bahwa nisbah bagi hasil antara bank (sebagai mudharib) dengan shohibul maal (nasabah) sebesar 75% (bank); 25% (nasabah) atas tabungan dengan akad mudharabah. Prosentase nisbah ini senada dengan pernyataan yang diungkapkan Bapak Nur pada ulasan bagian sebelumnya. Kembali melihat peran bank yang hanya bertindak layaknya makelar yang tidak menanggung kerugian, ternyata keuntungan yang diperoleh justru semakin besar daripada nasabah yang harus menanggung hilangnya modal jika bisnis yang dikelola shohibul maal mengalami kerugian. Dengan demikian, melalui akad transaksi mudharabah berarti semakin mengayakan bank sementara mudharib semakin merugi karena tergilas oleh strategi sistem bagi hasil yang diterapkan bank syariah. Continue reading Menggeser Paradigma Stock Concept Menuju Flow Concept: Kritik atas Netrevenue Sharing pada Akuntansi Mudharabah →

Semiotika Laba Akuntansi: Studi Kritikal-Posmodernis Derridean

Akhmad Riduwan, Iwan Triyuwono, Gugus Irianto, Unti Ludigdo

Penelitian ini bertujuan (a) memahami penafsiran laba akuntansi oleh akuntan dan non-akuntan; serta (b) melakukan pencarian makna (semiotika) secara dekonstruktif atas teks yang berkaitan dengan penafsiran laba akuntansi oleh para informan. Penelitian dilakukan berdasarkan pendekatan kritikal-posmodern berbasis filsafat Jacques Derrida. Dengan berbasis pada filsafat Jacques Derrida, kajian semiotika dekonstruktif mengungkap realitas bahwa (a) laba akuntansi adalah jejak, baik jejak sebagai ‘‘sejarah teks ” maupun jejak sebagai pengalaman dan kepentingan penafsir; (b) tidak ada realitas di luar teks laba akuntansi karena makna laba akuntansi bersifat intertekstual, laba akuntansi hanya hasil dari simulasi, dan makna laba akuntansi tidak melampaui kepentingan dan pengalaman penafsir; (c) laba akuntansi adalah metafisika kehadiran, dalam arti ada dan hadir melalui proses mengada, representasi dari realitas yang ada dari adaan-adaan, sehingga laba akuntansi adalah ilusi yang bermuara pada reifikasi; (d) laba akuntansi adalah produk logosentrisme, yaitu logika atau rasio sebagai pusat kebenaran, sehingga idealisme akuntansi dalam penetapan laba lebih mengemuka daripada pragmatisme. Continue reading Semiotika Laba Akuntansi: Studi Kritikal-Posmodernis Derridean →

Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan: Mengkonstruksi Akuntansi Sustainabilitas Berdimensi Spiritualitas

Eko Ganis Sukoharsono
Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Akuntansi Sosial dan Lingkungan

Postmodemisme telah membuat terbuka akan hamparan peristiwa masa lampau (historis, lihat Sukoharsono, 1998b dan 2000), kekinian dan harapan kedepan kehidupan sosial, yang menenggelamkan kita semua. Hamparan kejadian keseharian dunia dengan segala pahit getir, duka dan kecemasan. Seperti masyarakat Pandora yang cemas dengan keserakahan ‘manuasia langit’. Produk akuntansi keuangan yang ditarik-tarik keruang hampa dan banyak macam keseharian akuntansi yang lain menjadi pengalaman indah kemudian menjadi sumber terhebat dalam mendalami filsafat postmodemisme ini. Karya ‘tak akan terlupakan’ dengan joumey postmodemisme dari tahun 1992 hingga 1995 memberikan inspirasi berfilsafat akuntansi from history, from the margins, from below, from local, from society, from environment, from everyday life, hingga ke spiritual. Joumey postmodemisme tersebut menghantarkan pemahaman akan arti akuntansi dalam kehidupan sosial. Cahaya akuntansi dengan perspektif postmodemisme mampu menerangi bentangan kehidupan mulai era pra sejarah hingga masa postmodem ini (Lihat Sukoharsono 1995). Akuntansi hadir dengan mendisiplinkan masyarakat tidak hanya menghitung bagaimana bisnis berpenghasilan, tetapi juga mampu mendisplinkan tiap-tiap individu akan peduli sosial dan lingkungannya, bahkan transidental berspiritualitas. Continue reading Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan: Mengkonstruksi Akuntansi Sustainabilitas Berdimensi Spiritualitas →

Akuntansi Syari’ah: Menuju Puncak Kesadaran Ketuhanan Manunggaling Kawulo-Gusti

Iwan Triyuwono
Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Akuntansi Syari’ah

…Namun, apakah betul bahwa akuntansi itu memang benar-benar bebas dari nilai? Tidak mungkin! akuntansi tidak mungkin bebas dari nilai; karena dalam proses penciptaannya melibatkan manusia yang memiliki kepribadian dan penuh dengan kepentingan. Sepanjang manusia terlibat di dalamnya, sepanjang itu pula ciptaan manusia akan selalu sarat nilai {value laden).

Nilai utama yang melekat dalam diri akuntansi modem adalah nilai egoistik. Ini juga sangat wajar (tentu saja dalam versi akuntansi modem). Ketika manusia yang kebetulan memiliki sifat egoistik membangun disiplin dan praktik akuntansi, maka sifat itu secara otomatis (dan sadar atau tidak) masuk ke dalam akuntansi yang diciptakannya. Sehingga jadilah akuntansi itu sifat egoistik2 (Triyuwono 2006b, 107). Bila informasi yang dihasilkan oleh akuntansi egoistik itu kemudian dikonsumsi oleh para penggunanya {users), maka dapat dipastikan bahwa pengguna tadi akan berpikir dan mengambil keputusan yang egoistik pula. Akhirnya lingkungan kita menjadi lingkungan yang egoistik. Keberadaan sifat egoistik pada manusia ini tidak dapat dibantah, bahkan Adam Smith (1776, 27) mengatakan bahwa: “it is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. ” Sifat egoistik (di samping sifat altruistik) adalah sifat yang melekat dalam diri manusia sejak lahir {inborn)? Itu memang sudah dari sononya.

Nilai utama kedua yang melekat pada akuntansi modem adalah Continue reading Akuntansi Syari’ah: Menuju Puncak Kesadaran Ketuhanan Manunggaling Kawulo-Gusti →