Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan: Mengkonstruksi Akuntansi Sustainabilitas Berdimensi Spiritualitas

Eko Ganis Sukoharsono
Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Akuntansi Sosial dan Lingkungan

Postmodemisme telah membuat terbuka akan hamparan peristiwa masa lampau (historis, lihat Sukoharsono, 1998b dan 2000), kekinian dan harapan kedepan kehidupan sosial, yang menenggelamkan kita semua. Hamparan kejadian keseharian dunia dengan segala pahit getir, duka dan kecemasan. Seperti masyarakat Pandora yang cemas dengan keserakahan ‘manuasia langit’. Produk akuntansi keuangan yang ditarik-tarik keruang hampa dan banyak macam keseharian akuntansi yang lain menjadi pengalaman indah kemudian menjadi sumber terhebat dalam mendalami filsafat postmodemisme ini. Karya ‘tak akan terlupakan’ dengan joumey postmodemisme dari tahun 1992 hingga 1995 memberikan inspirasi berfilsafat akuntansi from history, from the margins, from below, from local, from society, from environment, from everyday life, hingga ke spiritual. Joumey postmodemisme tersebut menghantarkan pemahaman akan arti akuntansi dalam kehidupan sosial. Cahaya akuntansi dengan perspektif postmodemisme mampu menerangi bentangan kehidupan mulai era pra sejarah hingga masa postmodem ini (Lihat Sukoharsono 1995). Akuntansi hadir dengan mendisiplinkan masyarakat tidak hanya menghitung bagaimana bisnis berpenghasilan, tetapi juga mampu mendisplinkan tiap-tiap individu akan peduli sosial dan lingkungannya, bahkan transidental berspiritualitas.

DISAMPAIKAN DALAM RAPAT TERBUKA
SENAT UNIVERSITAS BRAWIJAYA
13 Desember 2010
(Download)

Comments are closed.