Karno dan Kumbokarno

Bambang Subroto
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Disampaikan dalam:
Accounting Research Training Series (ARTS) 6
Program Doktor Ilmu Akuntansi JAFEB Universitas Brawijaya

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi permintaan Panitia ARTS 6. Panitia meminta penulis untuk memberikan materi tentang wayang yang oleh panitia diberi judul  ”Peggunaan (Filosofi/Karakter) Wayang sebagai Metodologi Riset Akuntansi Postmodernism”. Prof. Iwan, selaku ketua panitia memberikan kebebasan kepada penulis untuk membuat tulisan apa saja tentang wayang, hal ini meringankan penulis untuk membuat tulisan ini. Sebagai seorang akuntan yang kebetulan menggemari wayang, saya mencoba membuat tulisan singkat  mengenai tokoh Karno dan Kumbokarno. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber, berupa sumber tertulis (terutama tulisan Patmosoekotjo,1993),  cerita lesan, maupun pengamatan pada berbagai pagelalaran wayang kulit.  Uraian dalam tulisan ini, disajikan secara ringan sekedar sebagai bahan diskusi dan perenungan.

MAHABHARATA DAN PEDALANGAN

Pewayangan atau pedalangan seperti yang dikenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, mengambil cerita yang bersumber dari Mahabharata yang ditulis oleh orang India, tetapi kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat Jawa. Penyesuaian-penyesuaian tersebut dapat berupa penambahan beberapa tokoh, modifikasi cerita dan pemberian nama lokal sehingga menjadi sedikit berbeda dengan cerita Mahabharata yang asli. Penyesuaian itu begitu indah sehingga masyarakat Jawa menganggap bahwa cerita itu asli Jawa dan kejadianya ada di Jawa. Beberapa contoh penyesuaian cerita dalam pewayangan yang sedikit berbeda dengan cerita asli Mahabharata adalah sebagai berikut:

  1. Tokoh Sanghyang Wenang atau Sanghyang Tunggal sebagai tokoh tertinggi dalam pewayangan, tokoh ini adalah penguasa segala dewa dan manusia, yang tidak diwujudkan dalam bentuk wayang.
  2. Tokoh Punokawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai gambaran rakyat jelata tetapi mempunyai kedudukan penting sebagai pamomong para ksatria (satrio).
  3. Tokoh Dewa Ruci dalam lakon Bimosuci adalah merupakan cerita yang menggambarkan ajaran manunggaling kawulo gusti.
  4. Tokoh Yudisthira (Puntodewo) dalam cerita pedalangan disebutkan mempunyai jimat/surat Kalimosodho yang diduga maksudnya adalah kalimat syahadat.
  5. Tokoh Drupadi, dalam ceritera aslnya adalah wanita yang Poliandri, karena dia dikawini oleh lima orang Pandawa, dan dari masing-masing suaminya mempunyai anak, tetapi dalam pedalangan dia diceritakan hanya menjadi isteri Yudisthira dan mempunyai anak bernama Poncowolo (?)
  6. Tokoh Srikandi, dalam cerita aslinya adalah pria yang berpenampilan sebagai wanita cantik kekasih Arjuna,  tetapi dalam cerita pedalangan dia adalah wanita cantik sejati isteri dari Arjuna
  7. Tokoh Abiyoso, dalam Mahabharata tidak menikahi Ambiko dan Ambaliko janda dari saudara tirinya yang merupakan puta mahkota Astino, tetapi hanya memenuhi permintaan ibunya untuk memberi keturunan kepada Ambiko dan Ambaliko sebagai penerus keluarga Bharata. Menurut pedalangan, Abiyoso menikahi kedua  janda saudaranya itu dan sempat menduduki tahta Astino Puro (Hastina) sebelum ia menyerahkan tahta kepada Pandu Dewonoto dan kembali menjadi Brahmana.

Contoh-contoh tersebut adalah merupakan sebagian dari banyak hal yang merupakan penyesuaian dari cerita Mahabharata menjadi cerita pedalangan yang tentunya lebih sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia atau Jawa pada khususnya. Cerita pedalangan adalah contoh sangat indah untuk melakukan adopsi pengetahuan yang berasal dari luar dengan sistem nilai tertentu menjadi pengetahuan lokal denagn nilai-nilai liokal tanpa harus menghilangkan sisi kebaikan pengetahuan asing tersebut.

PENGABDIAN DAN KESETIAN

Karno, Basukarno, atau Adipati Karno bersama dengan Kumbokarno, dan Patih Suwondo adalah tiga tokoh  dalam cerita pedalangan yang patut diteladani pengabdian dan kesetiaanya terhadap negara dan rajanya. Karno mengorbankan jiwanya dalam perang Bharata yudha (dalam Pedalangan disebut perang Brotoyudo atau Brontoyudo) untuk membela Astino dan Duryudono walaupun harus berhadapan dengan saudara seibunya. Kumbokarno harus gugur dimedan laga melawan balatentara kera demi membela negaranya Alengko Dirojo yang porak poranda walaupun dia tidak menyetujui perbuatan kakak dan rajanya Dosomuko. Patih Suwondo dari Maespati juga gugur ditangan Dosomuko untuk membela negara dan rajanya Prabu Arjuno Sosrobahu.

Karno, mengorbankan jiwanya demi Astino dan Duryudono sebagai bentuk balas budi atas kebaikan hati Duryudono dan Kurowo. Karno yang dianggap sebagai orang jelata karena dia anak seorang kusir kereta tidak diijinkan untuk mengikuti lomba adu keterampilan bersama para ksatria Pandowo dan Kurowo. Duryudono yang melihat potensi yang dimiliki Karno kemudian megangkat Karno sebagai saudara sehingga dia masuk menjadi golongan Ksatria (Satrio) dan dapat ikut lomba. Karno selanjutnya juga diangkat menjadi Adipati di Angga (Awonggo atau Ngawonggo) sebagai raja bawahan Astino. Sebagai bentuk terima kasihnya, Karno kemudian berjanji untuk setia dan selalu akan membela Duryudono, Kurowo dan Astino. Karno siap untuk menjadi senopati Kurowo pada perang Brotoyudo untuk berhadapan dengan senopati Pandowo. Kesetiaan Karno diuji pada saat menjelang perang Brotoyudo setelah ada kepastian bahwa Karno harus berperang tanding melawan Arjuno, Dewi Kunti ibu biologis Karno mendatanginya dan menjelaskan jati diri Karno sebagai anak kandung Kunti dan saudara  para Pandowo. Kunti meminta Karno untuk membatalkan pencalonanya sebagai senopati Astino dan bergabung dengan Pandowo, tetapi Karno menolak. Pada akhirnya, Karno tetap menjadi senopati Astino dan gugur dimedan laga Kurusetra, terpenggal kepalanya oleh panah Arjuno.

Kumbokarno bukan tokoh yang berasal dari cerita Mahabharata, tetapi dari cerita India lain yang sama terkenalnya, yaitu Ramayana. Kumbokarno adalah adik kandung Dosomuko raja di Alengko Dirojo. Dalam cerita Ramayana yang kemudian menjadi cerita pedalangan, Dosomuko menculik Dewi Sinto isteri Rama (Romo Wijoyo) dengan maksud untuk memperisterinya karena Dewi Sinto dianggap titisan Dewi Widowati yang sangat dicintai Dosomuko. Rama dengan bantuan Raja kera dari Guwokiskendo Prabu Sugriwo, menyerang dan memporak porandakan Alengko. Kumbokarno yang sangat tidak setuju atas perbuatan Dosomuko, menyarankan kepada kakaknya untuk mengembalikan Dewi Sinto kepada Rama  tetapi Dosomuko menolak dan marah besar serta mengusir Kumbokarno. Kumbokarno sangat kecewa dan pergi meninggalkan Alengko untuk bertapa tidur serta bertekad untuk tidak turut campur tangan dalam masalah peperangan antara Rama dan Dosomuko. Perang besar terus berkecamuk di Alengko banyak Senopati Alengko yang mati di peperangan dan balatentara kera sudah mulai masuk kotaraja dan menghancurkan kota, Dosomuko merasa kewalahan dan kemudian menyuruh untuk membangunkan Kumbokarno dan memintanya untuk maju berperang. Kumbokarno pada mulanya enggan untuk maju berperang, tetapi setelah melihat negaranya dirusak dan diduduki balatentara kera, ia sangat marah dan segera maju berperang. Kumbokarno berperang tidak untuk membela kakaknya yang jahat, tetapi membela negaranya yang diserbu dan di duduki musuh. Dalam peperangan itu, Kumbokarno akhirnya gugur terpotong-potong oleh panah Lesmono adik Rama. Kumbokarno gugur sebagai seorang patriot pembela tanah air sejati.

ILMU, TEMPAT DAN WAKTU

Karno adalah anak yang kelahirannya tidak diharapkan, ia lahir sebelum ibunya Dewi Kunti bersuami. Alkisah. pada waktu masih gadis, Dewi Kunti putri Prabu Kunti Boja raja Manduro berguru pada Resi Druwoso. Dewi Kunti diberikan ilmu panggendam dewa yang disebut ilmu Adityah Redoyo, ilmu itu kalau diterapkan dapat untuk mendatangkan dewa yang dikehendaki dan dapat memperoleh anak dari dewa tersebut. Pada suatu waktu, dewi Kunti yang masih belum bersuami. Mencoba untuk menerapkan ilmu pengendam dewa dan ia mendambakan kedatangan Batoro Suryo, singkat ceritera, Batoro Suryo berhasil didatangkan dan Dewi Kunti hamil. Hal ini menjadikan Kunti bingung karena sebagai putri seorang raja dia hamil sebelum bersuami. Kunti kemudian minta bantuan Resi Druwoso agar ia dapat melahirkan anaknya dengan tidak menghilangkan kegadisannya dan tidak diketahui orang lain. Karena kesaktian Resi Druwoso, Karno dilahirkan lewat telinga dan kemudian setelah diletakkan di bokor dan diberi anting-anting pengenal, kemudian dihanyutkan di sungai. Bayi Karno, (nama Karno diberikan karena ia lahir melalui telinga, disamping nama Karno, ia juga bernama Suryo Putro atau Suryatmojo yang berarti anaknya Suryo) kemudian ditemukan oleh seorang kusir kereta dan diambil sebagai anak angkat, itulah sebabnya Karno dianggap sebagai orang berkasta rendah karena hanya anak seorang kusir. Dalam pedalangan, orang yang menemukan bayi Karno adalah seorang raja  kecil di Awonggo bernama Prabu Radeyo, oleh karena itu dalam cerita pedalangan, Karno juga bernama Radeyo Putro. Sebagai putra Batoro Suryo, Karno kemudian tumbuh menjadi pria yang tampan dan mempunyai kesaktian tinggi. Karno kemudian mengabdi pada Raja Astino dan menjadi salah satu senopati dan gugur pada perang Brotoyudo seperti sudah dikisahkan sebelumnya.

Kumbokarno adalah anak Begawan Wisrowo dan Dewi Sukesi, ia mempunyai tiga saudara yaitu Dosomuko, Sarpokenoko dan Gunawan Wibisono. Dosomuko, Kumbokarno dan Sarpokenoko berwujud raksasa sedangkan Gunawan Wibisono berwujud seorang ksatria. Kisah Kumbokarno diawali dengan keinginan Dewi Sukesi, putri Prabu Somali, raja Alengko untuk memperoleh ilmu Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu (selanjutnya disebut Sastro Jendro saja). Sukesi bersedia kawin dengan pria yang dapat mengajarkan ilmu itu apapun keadaaannya. Keinginan Sukesi ini terdengar oleh Prabu Donopati seorang raja muda dan tampan dari Lokopolo, Prabu Donopati tertarik dengan keinginan Dewi Sukesi tetapi dia tidak mempunyai ilmu yang diinginkan Sukesi, oleh karena itu Donopati lalu minta bantuan kepada ayahnya Begawan Wisrowo untuk mengajarkan ilmu Sastro Jendro kepada Sukesi atas nama dirinya. Begawan Wisrowo memang mempunyai  ilmu tersebut, hanya saja ilmu itu tidak boleh diajarkan pada sembarang orang, tetapi untuk memenuhi permintaan anaknya ia terpaksa mengajarkan ilmu itu, dengan harapan Sukesi bersedia dikawin oleh anaknya. Setelah ilmu itu diajarkan, Sukesi  justru tertarik pada Begawan Wisrowo dan ingin kawin dengan pendeta itu dan tidak mau dengan anaknya. Hal ini membuat Donopati sangat marah kepada ayahnya dan memeranginya. Peristiwa ini membuat para Dewa marah karena terjadinya peperangan antara anak dan bapak serta diajarkannya ilmu Sastro Jendro kepada Sukesi. Pada akhirnya Dewa mengambil keputusan bahwa Donopati harus pergi ke kahyangan dan Wisrowo mengawini Sukesi. Perkawinan Wisrowo dan Sukesi ini dikutuk oleh Dewa sehingga tiga anak yang dilahirkan berujud raksasa, baru setelah Wisrowo bertobat dan minta pengampunan Dewa, kemudian mereka memperoleh anak berwujud ksatria dan berwatak mulia. Dosomuko dan Sarpokenoko adalah raksasa sakti tetapi berwatak angkoro murko, sedangkan Kumbolarno adalah raksasa tetapi mewarisi sifat bijaksana ayahnya. Sifat Kumbokarno tersebut ditunjukkan dalam sikapnya menghadapi kakaknya Dosomuko dan pembelaanya terhadap negara Alengko.

PENUTUP

Karno dan Kumbokarno mati dalam peperangan demi kesetiaan dan pengabdiannya kepada negaranya. Karno harus berhadapan dengan saudaranya sendiri dan Kumbokarno harus bertentangan dengan hati nuraninya yang tidak menyetujui perbuatan saudaranya. Mereka berada dipihak Astino dan Alengko yang selalu dianggap pihak yang salah dan buruk (Bolo kiwo), tetapi apakah mereka juga salah dan buruk? Mereka lahir diawali dengan keinginan para ibu mereka untuk memperoleh ilmu, tetapi mereka salah menerapkannya. Kunti salah menerapkannya karena belum waktunya dan Sukesi atau Wisrowo salah karena ilmu itu tidak bisa diajarkan disembarang tempat dan kepada sembarang orang. Tulisan ini sengaja tidak dibuat kesimpulan, tetapi setiap peserta diminta untuk menarik kesimpulan sendiri atas cerita wayang yang telah diuraikan. Akhirnya, penulis berharap bahwa tulisan yang tidak ilmiah ini ada manfaatnya dan atas segala kekurangannya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

Leave a Response

CAPTCHA Image
*