Akuntansi Syari’ah: Menuju Puncak Kesadaran Ketuhanan Manunggaling Kawulo-Gusti

Iwan Triyuwono
Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Akuntansi Syari’ah

…Namun, apakah betul bahwa akuntansi itu memang benar-benar bebas dari nilai? Tidak mungkin! akuntansi tidak mungkin bebas dari nilai; karena dalam proses penciptaannya melibatkan manusia yang memiliki kepribadian dan penuh dengan kepentingan. Sepanjang manusia terlibat di dalamnya, sepanjang itu pula ciptaan manusia akan selalu sarat nilai {value laden).

Nilai utama yang melekat dalam diri akuntansi modem adalah nilai egoistik. Ini juga sangat wajar (tentu saja dalam versi akuntansi modem). Ketika manusia yang kebetulan memiliki sifat egoistik membangun disiplin dan praktik akuntansi, maka sifat itu secara otomatis (dan sadar atau tidak) masuk ke dalam akuntansi yang diciptakannya. Sehingga jadilah akuntansi itu sifat egoistik2 (Triyuwono 2006b, 107). Bila informasi yang dihasilkan oleh akuntansi egoistik itu kemudian dikonsumsi oleh para penggunanya {users), maka dapat dipastikan bahwa pengguna tadi akan berpikir dan mengambil keputusan yang egoistik pula. Akhirnya lingkungan kita menjadi lingkungan yang egoistik. Keberadaan sifat egoistik pada manusia ini tidak dapat dibantah, bahkan Adam Smith (1776, 27) mengatakan bahwa: “it is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. ” Sifat egoistik (di samping sifat altruistik) adalah sifat yang melekat dalam diri manusia sejak lahir {inborn)? Itu memang sudah dari sononya.

Nilai utama kedua yang melekat pada akuntansi modem adalah

DISAMPAIKAN DALAM RAPAT TERBUKA
SENAT UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2 September 2006
(Download)

Comments are closed.